Download Bab 6 Tauhid PDF

TitleBab 6 Tauhid
File Size251.0 KB
Total Pages50
Table of Contents
                            Tauhid : Ruh Makrifat Hamba Allah
	6.10.1 Pengertian Tauhid
	6.10.2 Hakikat Penauhidan dan Hamba Allah
	6.10.3 Prinsip Dan Sifat Tauhid
	6.10.4 Tauhid dan Marifatullah
	6.10.5 Tauhid Menurut Pandangan Para Ahli Hakikat
	6.10.6 Esensi Makrifat Dalam Tauhid
	Referensi
                        
Document Text Contents
Page 25

Al-Junayd ditanya seputar tauhid, jawabnya,”Menunggalkan Yang ditunggalkan

melalui pembenaran sifat Kemanunggalan-Nya, dengan Keparipurnaan Tunggal-

Nya, bahwa Dia adalah Yang Maha Esa, Yang tidak beranak dan tidak

diperanakkan, dengan menafikan segala hal yang kontra, mengandung keraguan

dan keserupaan; tanpa keserupaan, tanpa bagaimana, tanpa gambaran dan

tamsil. Tiada sesuatupun yang menyamai-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi

Maha Melihat. “

Al Junayd juga berkomentar, “Bila akal para pemikir sudah mencapai ujungnya

dalam Tauhid, akan berujung pada kebingungan.” Saat ditanya kembali soal

tuhid, al-Junayd menjawab,”Suatu makna yang mengandung rumus-rumus, dan

didalamnya terkandung sejumlah ilmu. Sedangkan Allah sebagaimana Ada-Nya.”

Ketika ditanya mengenai tauhid kalangan khusus, al-Junayd berkata,”Hendaknya

hamba menengadahkan di sisi Allah SWT; dimana urusan-urusan Allah berlaku

disana dan lintasan hukum-hukum kekuasaan-Nya dalam arungan samudera

tauhid-Nya, melalui fana dari dirinya, fana dari ajakan makhluk dan menjawab

ajakannya, melalui hakikat Wujud-Nya, dan kemanunggalan-Nya dalam hakikat

kedekatan pada-Nya, dengan cara menghilangkan rasa dengan geraknya karena

Tegaknya Allah SWT sebagaimana kehendak-Nya; yaitu sang hamba

dikembalikan pada awalnya. Sehingga ia sebagaimana adanya, sebelum dirinya

ada.”

Menurut al-Junayd kata-kata paling mulia dalam tauhid adalah yang diucapkan

Abu Bakar Ash Shiddiq r.a., “Maha Suci Dzat Yang menjadikan jalan bagi

makhluk-Nya untuk mengenal-Nya, kecuali dengan cara merasa tak berdaya

mengenal-Nya.” Menurut al-Junayd, yang dimaksud Abu Bakar adalah, “Allah

SWT tidak bisa dikenal. Sebab menurut ahli hakikat, yang dimaksud dengan tak

berdaya adalah tak berdaya dari maujud, bukan tak berdaya dalam arti tiada

sama sekali (ma’dun). Seperti tempat duduk, ia tak berdaya dari duduknya

seseorang. Karena ia tidak bisa berupaya dan berbuat. Sedangkan duduk itu

sendiri maujud di dalamnya. Begitu pula orang yang arif (mengenal Allah SWT)

Similer Documents