Download Sumpah Nazar PDF

TitleSumpah Nazar
File Size2.1 MB
Total Pages8
Document Text Contents
Page 3

   Sumpah

Secara bahasa merupakan bentuk plural
dari kata (qasam) yang berarti sumpah
yang memiliki dua makna dasar, yaitu indah
dan baik, serta bermakna membagi sesuatu.
Menurut pengertian syara’  yaitu menahkikkan
atau menguatkan sesuatu dengan menyebut
nama Allah S WT, seperti; wallahi, billahi, tallahi.
Secara etimologis arti sumpah yaitu:

•   Pernyataan yang diucapkan secara resmi
dengan bersaksi kepada Allah SWT untuk 
menguatkan kebenaran dan kesungguhan.

•  Pernyataan yang disertai tekad melakukan
sesuatu menguatkan kebenarannya atau
berani menerima sesuatu bila yang dinyatakan
tidak benar.

• Janji atau ikrar yang teguhakan menunaikan
sesuatu.

a. Hukum sumpah

 Dalam perkara hukum, ada beberapa pendapat para ulama
yang diungkapkan dengan dasar pikiran dan dalil dasarnya.

 • Wajib

 • Sunnah.

 • Mubah

 • Makruh



 “Sumpah itu memang bisa melariskan dagangan akan
tetapi menghapuskan berkahnya.” (HR. Al- Bukhari no. 1945)

 • Haram



“Barangsiapa yang bersumpah dengan menggunakan
selain nama Allah maka sungguh dia telah berbuat kesyirikan.”
(HR. Abu Daud no. 2829 dan At-Tirmizi no. 1455).

Termasuk di dalam kesyirikan ini adalah bersumpah dengan
menggunakan nama Nabi shallallahu alaihi wasallam.



Page 4

b. Sumpah yang gugur
Sumpah Yang Gugur
Sumpah, juga bisa gugur. Ialah sumpah-sumpah yang berikrarkan sesuatu yang tidak dalam kebaikan. Seperti
bersumpah untuk memutuskan silaturrahmi.
Allah berfirman :
"Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa
mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang
yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema'afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak 
ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang"
[Q.S An-Nur 24 : 22]
Ayat ini berhubungan dengan sumpah Abu Bakar r.a. bahwa dia tidak akan memberi apa-apa kepada kerabatnya
ataupun orang lain yang terlibat dalam menyiarkan berita bohong tentang diri 'Aisyah. Maka turunlah ayat ini
melarang beliau melaksanakan sumpahnya itu dan menyuruh mema'afkan dan berlapang dada terhadap mereka
sesudah mendapat hukuman atas perbuatan mereka itu.

"Jangahlah kamu jadikan (nama) Allah dalam sumpahmu sebagai penghalang untuk berbuat kebajikan, bertakwa
dan mengadakan ishlah di antara manusia. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."
[Q.S Al-Baqoroh 2 :224]
Maksudnya: melarang bersumpah dengan mempergunakan nama Allah untuk tidak mengerjakan yang baik,
seperti: demi Allah, saya tidak akan membantu anak yatim. Tetapi apabila sumpah itu telah terucapkan, haruslah
dilanggar dengan membayar kafarat.

“Demi Allah, sungguh, orang yang berkeras hati untuk tetap melaksanakan sumpahnya, padahal sumpah tersebut
dapat membahayakan keluarganya, maka dosanya lebih besar di sisi Allah daripada dia membayar kaffarah yang
diwajibkan oleh Allah.” (HR. Al-Bukhari no. 6625 dan Muslim no. 1655)

Page 5

 C. Konsekuensi atau Kaffarat dari pelanggaran sumpah.

Dalam hal konsekuensi, ada dua sisi yang akan kita pandang
disini. Dari sudut pandang manfaat, dengan menyertakan
pernyataannya dengan sumpah secara lahirnya pernyataannya
akan semakin kuat. Kebenaran dari pernyataannya akan lebih
diyakini. Tapi sebaliknya jika dipandang dari sisi kaffarat ( jika ia
melanggar sumpahnya ) maka ia akan memiliki kewajiban untuk 
menebusnya.

“Barangsiapa yang bersumpah kemudian dia melihat selainnya
lebih baik daripada apa yang dia bersumpah atasnya maka
hendaklah dia melakukan hal yang lain itu dan dia membayar
kafarah atas (pembatalan) sumpahnya”. (HR. Muslim no. 1649)



(
 )

()
( )

 Hadits No. 1392

Dari Abdurrahman Ibnu Samurah Radliyallaahu 'anhu bahwa
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Apabila
engkau bersumpah terhadap suatu hal, lalu engkau melihat ada
sesuatu yang lebih baik daripada sumpahmu, maka bayarlah
kafarat untuk sumpahmu dan lakukan hal yang lebih baik itu."
Muttafaq Alaihi. Menurut lafadz riwayat Bukhari "Lakukan hal yang
lebih baik itu dan bayarlah kafarat sumpahmu." Menurut riwayat
Abu Dawud: "Bayarlah kafarat sumpahmu, kemudian lakukan apa

   Nazar

Nazar adalah mewajibkan kepada diri sendiri sebuah ibadah
yang pada dasarnya tidak wajib dengan menggunakan lafaz
yang menunjukkan hal itu. Seperti berkata, “Jika Allah
menyembuhkan penyakitku, aku akan berpuasa selama tiga
hari .”Suatu nazar dinyatakan sah, apabila dilakukan oleh orang
balig, berakal, mampu memilih (tidak ada paksaan), meski
mereka tidak beragama Islam.

 Hadits No. 1402

()

Menurut Hadits riwayat Bukhari dari 'Aisyah r.a: "Barangsiapa
bernadzar hendak maksiat kepada Allah, janganlah ia
melakukan maksiat tersebut."

 Macam-macam Nazar

a. Menjanjikan ibadah apabila mendapat nikmat atau
terhindar dari bahaya.

b. Mewajibkan ibadah dengan tidak ada sebab

 Syarat-syarat Nazar

a. Islam

b. Mukallaf

c. Berakal

Tidaklah sah nazar orang yang kafir,anak-anak,orang gila,dan

:
 ,

 , , 
  ,

 , 

:

Page 7

Nazar Yang Mewajibkan Kaffarah
Sebagaimana keadaan sumpah,nazar yang tidak di penuhi oleh orang yang bernazar wajib dibayarkan

kaffarahnya:
1. Karena Nazar itu dalam perkara maksiat,ketika itu haram dipenuhi nazar itu.
2. Pada barang yang tidak dapat dikerjakan,karena berat,susah,dan sebagainya.
3. Karena nazar itu tidak disebut,umpamanya seseorang mengatakan, ” jika penyakitku sembuh aku bernazar”dan
sebagainya,tanpa menyebutkan nazarnya.
Sabda Rasulullah SAW. Yang Artinya:
“Dari ibnu Abbas r.a.,ia berkata,Rasulullah SAW. ’Barang siapa yang bernazar dengan suatu nazar,yang tidak 
disebutkannya,kaffarahnya ialah kaffarah sumpah.Dan barang siapa yang bernazar dengan suatu nazar dalam hal
maksiat,kaffarahnya adalah kaffarah sumpah,dan barang siapa yang bersumpah yang dapat di
lakukannya,hendaklah ia bersumpah nazarnya itu, ”.(H.R.Dawud dan Tirmizi).

Hadits No. 1407

 , )

Tsabit Ibnu ad-Dhahhak Radliyallaahu 'anhu berkata: Pada masa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam ada
seseorang bernadzar hendak menyembelih unta di Buwanah, lalu ia menemui Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa
Sallam dan menanyakan hal itu. Beliau bertanya: "Apakah di situ pernah ada berhala yang disembah?". Ia
menjawab: Tidak. Beliau bertanya: "Apakah di situ pernah dirayakan hari raya mereka?". Ia menjawab: Tidak. Beliau
bersabda: "Penuhilah nadzarmu, sesungguhnya nadzar itu tidak boleh dilaksanakan bila ia mendurhakai Allah,
memutuskan tali persaudaraan, dan nadzar pada suatu benda yang tidak dimiliki oleh manusia." Riwayat Abu

( : ,
::::

: , ,
 ,

Similer Documents