Download Tan Malaka - Aksi Massa PDF

TitleTan Malaka - Aksi Massa
File Size632.1 KB
Total Pages123
Table of Contents
                            Aksi Massa
	Tan Malaka
	(1926)
Aksi Massa
	Tan Malaka (1926)
		DAFTAR ISI
		PENGANTAR PENULIS
			Alles was besteht ist wert,
dass es zu Gruende geht.
(Mephistopheles)
		I
REVOLUSI
		II
		IKHTISAR TENTANG RIWAYAT INDONESIA
		III
		BEBERAPA MACAM IMPERIALISME
		IV
		KAPITALISME INDONESIA
		V
		KEADAAN RAKYAT INDONESIA
		VII
		KEADAAN POLITIK
		VIII
		REVOLUSI DI INDONESIA
		IX
		PERKAKAS REVOLUSI KITA
		X
		SEKILAS TENTANG GERAKAN KEMERDEKAAN DI INDONESIA
		XI
		FEDERASI REPUBLIK INDONESIA
                        
Document Text Contents
Page 61

miliknya punah sama sekali kecuali tenaga, badan dan nyawa.
Harga tenaga ini "tunduk" kepada turun naiknya harga di pasar
tenaga. Kaum kapitalis hidup dari pemerasan dan kaum buruh
dari upah kerjanya. Upah ini disebabkan oleh "undang-undang
besi" dalam "tawar-menawar" di pasar tenaga — tidak dapat
menutup harga kerja yang dilakukan (karena persaingan hebat di
pasar tenaga dan kecemasan akan mati kelaparan, terpaksa buruh
itu menerima upah yang serendah-rendahnya).

Supaya dapat mengadakan pemerasan atas kelas buruh yang
jumlahnya lebih besar, kelas kapitalis yang jumlahnya kecil,
mempergunakan "senjata gaib", seperti sekolah, gereja atau
masjid, dan surat kabar, juga perkakas kelas seperti polisi,
tentara, penjara, dan justisi. Parlemen, masjid, gereja, sekolah
dan surat-surat kabar berdaya upaya menidurkan dan
melemahkan hati buruh dengan pendidikan yang banyak
mengandung racun. Bila mereka tak dapat berlaku seperti itu,
dipergunakanlah penjara, polisi dan militer.

Persaingan ekonomi sesama kaum kapitalis menyebabkan
timbulnya kongsi. Mereka dapat melawan musuh-musuhnya
yang terpencil. Kalau kongsi dalam persaingan "mati-matian" tak
dapat menaklukkan lawannya, ia mencoba mengadakan
kompromi. Kedua kongsi yang dulunya bermusuhan, sekarang
menjadi satu sindikat. Demikianlah mereka dapat menaikkan
harga barangbarangnya dengan sesuka hati, sehingga merugikan
si pembëli (buruh dan tani miskin).

Jadi, sindikat itu adalah gabungan dari beberapa kongsi. Akan
tetapi kongsi bekerja itu menurut caranya sendiri dan merdeka
seperti biasa. Supaya kekuatannya bertambah besar dan terpusat
ke satu pimpinan untuk perjuangan ekonomi, dibentuklah satu
trust. Jadi, sindikat mempunyai banyak ketua, sedangkan trust
seorang saja, dan begitu juga cara kerjanya, sebuah trust dapat
secara lebih sempurna menguasai pasar dunia daripada sindikat.

Di pasar negeri-negeri Barat, terutama Amerika, kita lihat
sejumlah tambang arang, industri besi, pabrik-pabrik minyak dan
maskapai kapal yang dulunya terpecah-pecah sekarang bersatu
dalam trust yang besar, dikepalai oleh raja-raja trust. Kita dengar

61

Page 62

nama-nama seperti Morgan Raja Bank, Rockefeiler Raja
Minyak, Carnagie Raja Baja dan Ford Raja Mobil.

Di Jerman kita lihat bagaimana trust yang banyak itu diikat
menjadi satu "gabungan trust". Pabrik-pabrik besi, arang dan
kertas, maskapai kapal dan kereta api semuanya tunduk di bawah
pimpinan Stinnes yang baru meninggal dunia. Demikianlah,
Stinnes dapat menguasai harga bahan-bahan mentah dan barang-
barang pabrik, selanjutnya ongkos pengangkutan dan advertensi
dari barang-barang pabrik itu. Pembentukan trust seperti ini di-
tiru pula oleh bank-bank yang menyatukan diri dari maskapai
menjadi sindikat, dari sindikat ke trust dan dari trust ke gabungan
trust.

Bank meminjamkan uang kepada industri dan perkebunan; bank
itu senantiasa bertambah kaya oleh bunga uang yang tinggi, yang
dibayar oleh si peminjam. Akan tetapi, bunga uang yang tinggi
itu ditarik si peminjam dari buruh mereka, dan si buruh menarik
hanya dari keringat dan tenaganya. Kepada negara, bank juga
meminjamkan uang yang mesti dibayar dengan bunga yang tidak
rendah. Bank negara pada gilirannya menarik pajak yang banyak
sekali dari kaum buruh (sebab merekalah yang terbanyak
jumlahnya) untuk membayar utang itu beserta bunganya. Ke
negeri-negeri asing, bank memimjamkan uangnya dengan bunga
yang serupa. Bank, "benteng kapitalisme", jadi penguasa
industri, pertanian dan pemerintahan suatu negeri, dan dengan
penanaman modal di negeri asing itu, ia juga menguasai negeri-
negeri itu.

Supaya tetap memperoleh bunga, maka ia jugalah yang
mengangkat dan memberhentikan kepala-kepala industri, ahli
negara dan ahli politik, dan langsung atau tidak menggaji atau
menyuap mereka. Dengan adanya trust maka ditaruhnya
pimpinan perusahaan bank ke tangan beberapa bankir. Jadi,
bangkirlah pada hakikatnya yang jadi pemimpin industri,
pengangkutan, pertanian perdagangan, negara dan politik,
pendeknya masyarakat kapitalis modern.

Dengan memperhatikan hal tersebut di atas, tampaklah kepada
kita bahwa makin maju kapitalisme, makin sedikit orang yang
berharta dan jumlah kaum buruh miskin menjadi lebih besar. Di

62

Similer Documents